ZIARAH
Ziarah adalah salah
satu praktik sebagian besar umat beragama yang
memiliki makna moral yang penting. Kadang-kadang ziarah dilakukan ke
suatu tempat yang suci dan penting bagi keyakinan dan iman yang
bersangkutan. Tujuannya adalah untuk mengingat kembali, meneguhkan iman atau menyucikan diri.
Orang yang melakukan perjalanan ini disebutpeziarah.
Sejarah Ziarah
Kubur
Ziarah
kubur merupakan syariat dalam Islam agar kita senantiasa mengingat
kematian ( tadzkirah ). Kalangan fuqaha ( ahli fiqh ) menjelaskan bahwa ziarah
kubur dibolehkan bagi laki-laki. Hal dilandaskan pada sabda Rasulullah SAW yang
berbunyi :
كنت
نهيتكم عن زيارةالقبور, فزوروها,فإنهاتذكركم الأخرة
“ dulu aku
melarangmu untuk ziarah kubur, sekarang berziarahlah sebab ziarah kubur
mengingatkanmu akan akhirat”.
Adapun alasan
pelarangan ziarah kubur sebelumnya karena ziarah kubur adalah hal yang
dilakukan pada masa jahiliyyah.
وقد ثبت
أن رسول الله زار قبر أمه,فبكى وأبكى من حوله,وقال النبى : استأذنت ربي أن أستغفر
لها فلم يؤذن لي, واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي,فزوروها
Berdasarkan
hadits diatas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad dan Imam lainnya
pula, menjelaskan kehendak Rasulullah Muhammad SAW untuk melakukan ziarah
kubur ibunya, kemudian menangis disekitarnya, lalu Rasulullah bersabda :
Aku meminta izin kepada Allah untuk memohonkan ampun baginya (Ibunya) namun
Allah tidak mengizinkanku, lalu kemudian aku memohon izin agar dapat menziarahi
kuburnya lalu Allah mengizinkanku, maka kemudian aku menziarahinya.
Berdasarkan
riwayat hadits tersebut, maka ziarah kubur secara syar’i diperbolehkan
sepanjang maksudnya untuk mengingat kematian, i’tibar kefanaan dunia,
bertadabbur atas apa yang terjadi pada orang-orang bermaksiat dan orang-orang
kafir.
Ziarah Kubur
Kalangan Non Muslim ( Kafir dan Musyrik )
Allah berfirman
dalam Surah As-Shaafaat yang mengisahkan kaum Nabi Luth :
Artinya :
Sesungguhnya kalian, hai orang-orang Mekah, selalu melewati perkampungan kaum
Nabi Lûth dalam setiap perjalanan kalian ke Syâm, pagi dan petang. Apakah
kalian telah kehilangan akal sehingga tidak mencermati apa yang menimpa mereka
akibat mendustai rasul? (137–138)
Berdasarkan
hal ini, kalangan ahli fiqih ( fuqaha ) bahwa jika ziarah kubur non muslim
seperti orang kafir, diperbolehkan untuk meratapi kedzaliman yang mereka
lakukan, dan diperbolehkan pula untuk menangis dan menunjukkan ketakutan kepada
Allah atas apa yang terjadi pada mereka.
Adapun ziarah
kubur non muslim seperti orang kafir dan musyrik menjadi haram jika hendak
mengagung-agungkan, menghormati, serta memohonkan ampun kepadanya. Sebagaimana
firman Allah SWT didalam Surah At-Taubah ayat :
مَا
كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ
وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ
أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ﴿١١٣﴾
Artinya : Nabi
dan orang-orang Mukmin tidak boleh memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik–
meskipun mereka adalah orang-orang terdekat mereka–saat mereka mengetahui bahwa
orang-orang musyrik yang mati dalam kekafiran berhak menjadi penghuni neraka
untuk selamanya. (113)
ARTI ZIARAH
KUBUR
Kata-kata ziarah menurut
arti bahasanya adalah menengok. Ziarah kubur artinya menengok kubur.
Ziarah ke makam orang tua artinya menengok kemakam orang tua, ziarah ke makam
wali artinya menengok ke makam wali, ziarah ke makam pahlawan artinya menengok
ke makam pahlawan.
Menurut
syariat Agama Islam, ziarah kubur itu bukan hanya sekedar menengok kubur, bukan
sekedar menengok kemakam orang tua, bukan sekedar menengok makam wali, bukan
hanya sekedar menengok makam pahlawan, bukan pula untuk sekedar tahu dan mengerti
dimana seseorang dikuburkan, atau bukan hanya sekedar mengetahui keadaan kubur
atau makam, akan tetapi kedatangan seseorang ke kubur atau ke makam dengan
maksud untuk berziarah adalah mendo’akan kepada yang dikubur atau yang
dimakamkan dan mengirim do’a untuknya dengan pahala dari bacaan ayat-ayat
Qur’an dan kalimat Thoyibah, seperti bacaan Tahlil, Tahmid, Tasbih, Sholawat
dll. Dan perlu diketahui ziarah kubur bukan untuk mintak kepada yang dikubur,
melainkan justru kitalah yang mendo’akan dan mengirim pahala dari bacaan-bacaan
thoyibah kepada mereka yang telah dikubur.
Dengan
demikian, jelaslah bahwa ziarah kubur menurut Syariat Agama Islam adalah
termasuk amal perbuatan yang baik.
Ziarah
Kubur bisa menjadi Solusi Untuk Mendekatkan diri (taqorub) Kepada Alloh
SWT di Tempat Orang Orang Shaleh, karena Sesungguhnya mencari ketenangan dan
kedamaian dalam taqorub itu yang lebih utama, selain untuk mentafakuri betapa
Orang yg kita Ziarahi itu sangat memerlukan Do'a Do'a kita dan kita akan
seperti Mereka (Meninggal) yang lebih utama lagi Kepada Kedua Orang Tua baik
yang masih Hidup atau yang telah tiada agar hati kita selalu mengingat Alloh
SWT.
"Bagi
Sebagian Orang Mohon Petunjuk di Kuburan Kerap Sekali dilakukan, akan tetapi
jika Aqidah kita masih lemah lebih baik jangan pergi ke kuburan karena jika
kita meminta selain Kepada Alloh SWT akan Menjadi Musyrik"
Sebelum Anda
Melalukannya fahamilah dan Pertebal Aqidahnya lewat Penjelasan di bawah ini:
TATA CARA
ZIARAH KE KUBUR
Beberapa
petunjuk/adab tata cara berziarah ke kubur menurut Agama Islam:
Hendaklah
berwudlu dahulu sebelum berziarah.
Setelah sampai
di pintu gerbang makam, supaya memberi salam: “Assalamu’alaikum ahladdiyaari
minal mu’miniina wa inna insyaa-Allaahu bikum laahiquun nas-alullahalanaa
walakumul ‘aafiyata”. Atau dengan salam: “Assalamu’alaikum daara qaumin
mu’minin fa-innaa insyaa-Allaahu bikum laahiquun”. Kesejahteraan semoga bagimu
wahai ahli kubur dari orang-orang Mu’min, InsyaAllah kami akan bertemu dengan
kamu.
Sesampainya di
depan makam yang dituju (misalnya kemakam orang tua) kemudian menghadap kearah
muka mayat (menghadap kerah timur) sambil mengucap salam khusus ke mayat
tersebut, yaitu: Assalamu’alaikum ya………….. (sebutkan nama yang diziarahi).
Bacalah
ayat-ayat/surat-surat dari Al-Qur’an, seperti membaca surat Yasin, Ayat Kursi
atau membaca Tahlil, dll.
Selesai itu, berahlihlah
menghadap ke arah Qiblat (kearah barat), arah punggungnya si mayat dengan
membaca do’a (dengan khusyuk).
Dalam
melakukan ziarah itu, hendaknya dilakukan dengan penuh rasa hormat dan khidmat
serta khusyu’ (tenang).
Hendaknya
dalam hati ada ingatan bahwa aku pasti akan mengalami seperti dia (mati).
Setelah
berziarah hendaknya memperbanyak amal-amal kebaikkan dan menambah bakti
ta’atnya kepada Allah SWT.
Hendaknya
jangan menduduki nisan kubur dan melintasi diatasnya, karena hal itu termasuk
perbuatan Idza’ (menyakitkan) terhadap mayit dan yang punya kubur, keluarganya.
peringatan:
Berdo’a yang
dimaksud diatas, bukanlah minta kepada kuburan, tetapi mohon kepada Allah SWT.
agar yang di Ziarahi dan penghuni seluruh kuburan tersebut selamat dan senang
di “sana”, juga berdo’a mohon kepada Allah SWT agar dirinya sendiri kelak
dimasukkan ke Sorga.
Hikmah Ziarah
kubur
Amalan ziarah
kubur ini mempunyai tujuan dan hikmatnya tersendiri, antaranya ialah :
Supaya
dikasihi oleh Allah Subhanahu Wataala dengan sebab mengikuti Sunnah Rasulullah
Sallallahu Alaihi Wasallam.
Berziarah ini
juga akan menerbitkan perasaan insaf dan taubat di dalam hati tentang
menghadapi hari kematian, alam kubur dan alam akhirat, iaitu dengan muhasabah
diri, adakah amalan kita sudah mencukupi untuk dijadikan bekal di dalam alam
barzakh dan alam akhirat.
Selain itu,
berziarah kubur juga jika difahami dan dihayati tujuannya, akan mengingatkan
kepada kita asal usul kejadian kita yang berasal dari tanah dan kepada tanah
juga kita akan dikembalikan. Dengan penghayatan sedemikian, insya-Allah akan
menggamit rasa hati dan kesedihan serta dapat melembutkan kekerasan hati, yang
akan melahirkan kesedaran untuk melakukan segala suruhan Allah Subhanahu
Wataala dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ziarah
kubur juga bertujuan berlaku ihsan terhadap penghuni kubur, lebih-lebih
lagi kepada roh kedua ibu dan bapak kita dan menggembirakan mereka dengan
memberi salam, memohon doa agar dilimpahi dengan rahmat, pengampunan dan
keafiatan dari Allah Subhanahu Wataala. Perlulah diketahui bahawa permohonan
doa anak yang salih itu, yang sentiasa mendoakan kedua ibu bapa mereka yang
telah meninggal dunia akan diterima oleh Allah Subhanahu Wataala serta ditulis
oleh Allah Subhanahu Wataala sebagai anak yang taat kepada ibu bapanya. Sabda
Rasulallah Sallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh
Al-Imam Muslim maksudnya: "Dari Abi Hurairah Radiallahuanhu, bahawasanya
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Apabila seseorang manusia itu
mati, akan terputuslah daripadanya segala amalannya melainkan tiga perkara:
Sedekah yang berterusan manfaatnya, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak yang
salih yang mendoakan baginya.''
Adab Berziarah
Pertama:
Sebelum menziarahi kubur, disunatkan kita berwuduk dan memakai pakaian yang
sopan dan menutup aurat. Kemudian barulah kita bertolak menuju ke tanah
perkuburan dan berniat ikhlas selaras dengan tujuan dan hikmah ziarah tersebut.
Kedua: Apabila
kita sampai ke tanah perkuburan, disunatkan kita memberi salam kepada ahli atau
penghuni kubur dan afdalnya dilakukan dalam keadaan kita berdiri di tepi kubur
dengan membelakangi kiblat dan menghadap ke arah muka ahli kubur yang kita
ziarahi
nabi Saw.
bersabda : jika mereka berziarah kubur hendaklah mengucapkan :
Assalamu'alikum
ahlad diyaar, minal mukminiina wal muslimin . inna insya Allah laa hikuuna wa
yarhamullah al mustaqaadimina minna wal musta'khirina as alullah lana walakumul
afiyah …...(Hadis riwayat Muslim)
Salam
sejahtera atas kalian wahai para penghuni kubur dari orang-orang mukmin dan
muslim, sesungguhnya atas kehendak Allah kami akan berjumpa dengan kalian.
Semoga Allah merahmati orang-orang yang lebih dahulu meninggal dari pada kami
dan kalian serta yang lebih akhir. Kami memohon afiat kepada Allah bagi kami
dan bagi kalian.
atau doa yang
lain :
"assala-mu
'alaikum da-ra qaumin mukmini-na wa inna- insya-Alla-hu bikum la-hiqu-n.
Alla-humma la- tahrimna- ajrahum wala- taftinna- ba'dahum"Perlu juga kita ketahui
bahawa walaupun dengan hanya melintasi mana-mana kubur orang-orang Islam
sekalipun tanpa niat ziarah secara khusus, kita juga disunatkan memberi salam
kepada mereka dan berdoa untuk keselamatan mereka. Ini berdasarkan hadis
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya oleh Abu Razin:
Maksudnya:
“Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu katanya: “Abu Razin bertanya: “Ya
Rasulullah! Sesungguhnya dalam perjalananku (menuju ke rumahku) melintasi tanah
perkuburan, apakah ada bacaan yang patut saya ucapkan jika saya melalui
mereka?” Jawab Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam: “Bacalah: “Mudah-mudahan
Allah limpahkan keselamatan ke atas kamu wahai ahli kubur daripada muslimin dan
mukminin, kamu semua telah mendahului kami, dan kami akan menyusul kamu dan
sesungguhnya kami - Insya Allah -, akan menyusuli kamu.” Abu Razin bertanya
lagi: “Wahai Rasulullah, adakah mereka mendengar?” Jawab Rasulullah Sallallahu
‘alaihi wasallam: “Mereka mendengar dan tidak dapat menjawab (iaitu jawapan
yang boleh didengar oleh orang hidup).” Kemudian Rasulullah Sallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Ya Abu Razin! Adakah engkau tidak suka bila (salam) kamu
dijawab oleh para malaikat?”
(Ditakhrîjkan
oleh Al-‘Uqaili)
Ketiga :
Selepas memberi salam, kita disunatkan pula membaca al-Qur’an, teristimewanya
membaca surah al-Ikhlâsh sebanyak sebelas kali atau membaca surah Yâsîn, dan
setelah itu hadiahkan pahala bacaan itu kepada mereka, sebagaimana yang telah
dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sabda Baginda
yang diriwayatkan oleh ad-Daraquthni:
Maksudnya:
“Sesiapa yang melintasi di kawasan perkuburan lalu membaca
sebelas kali,
kemudian menghadiahkan pahala bacaan itu untuk orang-orang yang mati, maka dia
akan diberi pahala sebanyak bilangan (pahala) orang-orang yang mati.”
(Hadis riwayat
ad-Daraquthni)
Terdapat juga
sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasa’i dan dianggap shahîh oleh
Ibnu Hibban:
Maksudnya:
“Bacalah ke atas keluarga kamu yang telah mati akan surah Yâsîn.”
Setelah itu
disunatkan kita berpaling ke arah qiblat serta mengangkat kedua-dua belah
tangan untuk berdoa.
Keempat:
Disunatkan memberi sedekah kerana amalan bersedekah adalah antara Sunnah
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan diniatkan kepada ahli kubur agar
pahalanya akan sampai kepada penghuni kubur tersebut. Ini berdasarkan hadis
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim
yang maksudnya:
"Dari
A'isyah Radiallahuanha katanya: Seseorang lelaki datang bertanya kepada Rasulullah
Sallallahu Alaihi Wasallam: Ya Rasulallah! Ibuku meninggal dengan secara
tiba-tiba dan dia tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku, seandainya dia
sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Dapatkah dia pahalanya jika aku
bersedekah atas namanya? Jawab Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam: Ya.''
Kelima :
Jangan melakukan hal-hal yang dilarang seperti :
(i) Meratap,
memekik atau memukul-mukul pipinya (kerana bersangatan dukacita).
Larangan ini
adalah berdasarkan hadis Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya:
“Tidak termasuk di dalam golongan kami orang yang memukul-mukul pipinya,
mengoyak-ngoyak koceknya, berteriak-teriak seperti yang dilakukan oleh
orang-orang jahiliah.”
(Hadis
muttafaq ‘alaih)
Adapun sedih
dan mengalirkan airmata tanpa ratapan tidaklah dilarang, kerana kesedihan dan
mengalirkan airmata itu tanda rasa kasih kepada ahli kubur atau merasa insaf
tentang hari kematian.
(ii) Makruh
duduk atau merangkak di atas kubur dan makruh bersandar pada kubur.
Larangan ini
berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu:
Maksudnya:
“Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang yang duduk di atas
bara api lalu terbakar pakaiannya sehingga terkupas kulitnya, adalah lebih baik
baginya daripada dia duduk di atas kubur.”
(Hadis riwayat
Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Akan tetapi
tidaklah dilarang duduk di sekitar atau di sekeliling kubur sebagaimana hadis
daripada Ali Karramallahu wajhah:
Maksudnya:
“Suatu ketika kami semua berada di Baqi‘ al-Gharqad untuk menghantar jenazah
seseorang. Pada saat itu Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi tempat
kami, lalu Baginda Sallallahu ‘alaihi wasallam duduk dan kami semua pun duduk
mengelilinginya dan bersama Baginda ada sebatang tongkat.”
(Hadis riwayat
al-Bukhari)
(iii) Tidak
harus memijak kubur tanpa keperluan (hajat) kerana memijak itu seperti hukum
duduk. Walau bagaimanapun jika tidak ada jalan menuju ke kubur yang hendak
diziarahi itu, melainkan memijak kubur (yang lain), maka ketika itu harus
memijak kubur, kerana adanya keuzuran.
(d) Haram
melakukan perkara-perkara khurafât yang menjejaskan aqidah seperti mencium
kubur, mengusap-usap tanah perkuburan dan yang seumpamanya.
Manakala
menabur bunga di atas kubur itu, tidak ada nas yang menyebutnya. Justeru, amalan
menabur bunga itu bukan sunnah.
Sekitar
Persoalan Penghuni kubur
Rasulullah saw
bersabda:
“Berilah
hadiah mayit-mayitmu.” Kemudian kami (sahabat) bertanya: Apa hadiah untuk
mayit? Beliau menjawab: “Sedekah dan doa.” (Mafatihul Jinan, pasal 10, hlm 570)
Rasulullah saw
bersabda:
“Sesungguhnya
setiap Jum’at arwah orang-orang mukmin datang ke langit dunia vertikal dengan
rumah mereka, seraya masing-masing mereka memanggil dengan suara yang sedih
sambil menangis: wahai keluargaku, anak-anakku, ayahku dan ibuku, kerabatku,
sayangi kami niscaya Allah menyayangi kalian dengan hadiah yang kalian berikan
pada kami. Celaka kami (karena harta kami), kami yang dihisab, orang lain yang
mengambil manfaat.”
Dalam hadis
yang lain Rasulullah saw bersabda:
“Masing-masing
mereka memanggil kerabatnya: Sayangi kami dengan dirham atau roti atau pakaian,
niscaya Allah menyayangi kalian dengan pakaian dari surga.” Kemudian Rasulullah
saw menangis. Kami (sahabat) pun ikut menangis, Rasulullah saw tak kuasa berbicara
karena banyaknya menangis. Kemudian beliau bersabda: “Mereka itu adalah saudara
kalian dalam agama, mereka hancur menjadi tanah setelah mereka (di dunia)
diliputi kesenangan dan kenikmatan. Mereka memanggil dengan seruan: “Celaka
kami, sekiranya kami dulu menginfakkan harta kami di jalan ketaatan kepada
Allah dan ridha-Nya, niscaya kami tidak butuh pada kalian.” Lalu mereka pulang
dengan kerugian dan penyesalan, dan mereka berseru: Cepatlah kalian bersedekah
untuk mayit kalian.”
Muhammad bin
Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami
berziarah pada orang-orang yang telah meningga? Beliau menjawab: Boleh.
Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah
kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka
bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang
harus kami baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah
doa ini. (lihat doa berikutnya)
Imam Musa
Al-Kazhim (sa) berkata:
“Barangsiapa
yang tidak mampu berziarah kepada kami (Ahlul bait), maka hendaknya berziarah
pada orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya
seperti pahala berziarah kepada kami; dan barangsiapa yang tidak mampu
menyambung silaturahim pada kami, maka hendaknya menyambung silaturahim pada
orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya
seperti pahala menyambung silaturahim pada kami.”
Imam Ali
Ar-Ridha (sa) berkata:
“Barangsiapa
yang mendatangi kuburan saudaranya yang mukmin, kemudian meletakkan tangannya
pada kuburannya, dan membaca surat Al-Qadar (7 kali), maka ia akan diselamatkan
pada hari kiamat.” Dalam hadis yang lain disebutkan: “dan menghadap ke kiblat.”
Syeikh Abbas
Al-Qumi (ra) mengatakan: Pahala bacaan surat tersebut untuk orang yang
membacanya, juga untuk penghuni kubur yang diziarahi. Karena hal ini dikuatkan
oleh hadis-hadis yang lain.
Makruh Ziarah
kubur di malam hari
Tentang
makruhnya ziarah ke kuburan orang-orang mukmin di malam hari, Rasulullah saw
bersabda kepada Abu Dzar: “Jangan sekali-kali kamu berziarah kepada mereka di
malam hari.”
Adab dan doa
ziarah kubur
Pertama:
Ketika memasuki areal kuburan mengucapkan salam.
Abdullah bin
Sinan pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bagaimana cara
mengucapkan salam kepada penghuni kubur? Beliau menjawab: Ucapkan:
اَلسَّلاَمُ
عَلَى اَهلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَنْتُمْ لَنَا
فَرْطٌ وَنَحْنُ اِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ
Assalâmu ‘alâ
ahlid diyâr, minal mu’minîna wal muslimîn, antum lanâ farthun, wa nahnu
insyâallâhu bikum lâhiqûn.
Salam atas
para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau telah mendahului kami, dan
insya Allah kami akan menyusulmu.
Atau
mengucapkan salam seperti yang diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
اَلسَّلاَمُ
عَلَى اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنْ اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ، يَا
اَهْلَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ بِحَقِّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ كَيْفَ وَجَدْتُمْ
قَوْلَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ، يَا لاَاِلَهَ
اِلاَّ اللهُ بِحَقِّ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ اِغْفِـرْ لِمَنْ قَالَ لاَاِلَهَ
اِلاَّ اللهُ، وَاحْشَـرْنَا فِي زُمْرَةِ مَنْ قَالَ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ عَلِيٌّ وَلِيُّ اللهِ
Assâlamu ‘alâ
ahli lâ ilâha illallâh min ahli lâ ilâha illallâh , ya ahla lâ ilâha illallâh
bihaqqi lâ ilâha illallâh kayfa wajadtum qawla lâ ilâha illallâh min lâ ilâha
illallâh, ya lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh ighfir liman qâla lâ
ilâha illallâh, wahsyurnâ fî zumrati man qâla lâ ilâha illallâh Muhammadun
Rasûlullâh ‘Aliyyun waliyullâh.
Salam bagi
yang mengucapkan la ilaha illallah dari yang mengucapkan la ilaha illallah,
wahai yang mengucapkan kalimah la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah,
bagaimana kamu memperoleh kalimah la ilaha illallah dari la ilaha illallah,
wahai la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah ampuni orang yang membaca
kalimah la ilaha illallah, dan himpunlah kami ke dalam golongan orang yang
mengu¬cap¬kan la ilaha illallah Muhammadur rasululullah Aliyyun waliyyullah.
Imam Ali bin
Abi Thalib (sa) berkata: “Barangsiapa yang memasuki areal kuburan, lalu
mengucapkan (salam tersebut), Allah memberinya pahala kebaikan 50 tahun, dan
mengampuni dosanya serta dosa kedua orang tuanya 50 tahun.”
Kedua:
membaca:
1. Surat
Al-Qadar (7 kali),
2. Surat
Al-Fatihah (3 kali),
3. Surat
Al-Falaq (3 kali),
4. Surat
An-Nas (3 kali),
5. Surat
Al-Ikhlash (3 kali),
6. Ayat Kursi
(3 kali).
Dalam suatu
hadis disebutkan: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar (7 kali) di kuburan
seorang mukmin, Allah mengutus malaikat padanya untuk beribadah di dekat
kuburannya, dan mencatat bagi si mayit pahala dari ibadah yang dilakukan oleh
malaikat itu sehingga Allah memasukkan ia ke surga. Dan dalam membaca surat
Al-Qadar disertai surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlash dan Ayat kursi,
masing-masing (3 kali).”
Ketiga:
Membaca doa berikut ini (3 kali):
اَللَّهُمَّ
اِنِّي اَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ اَنْ لاَتُعَذِّبَ هَذَا
الْمَيِّتِ
Allâhumma innî
as-aluka bihaqqi Muhammadin wa âli Muhammad an lâ tu’adzdziba hâdzal may¬yit.
Ya Allah, aku
memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad janganlah azab
penghuni kubur ini.
Rasulullah saw
bersabda:
“Tidak ada
seorang pun yang membaca doa tersebut (3 kali) di kuburan seorang mayit,
kecuali Allah menjauhkan darinya azab hari kiamat.”
Keempat:
Meletakkan tangan di kuburannya sambil membaca doa berikut:
اَللَّهُمَّ
ارْحَمْ غُرْبَتَهُ، وَصِلْ وَحْدَتَهُ، وَاَنِسْ وَحْشَتَهُ، وَاَمِنْ
رَوْعَتَهُ، وَاَسْكِنْ اِلَيْهِ مِنْ رَحْمَتِكَيَسْـتَغْنِي بِهَا عَنْ رَحْمَةٍ
مِنْ سِوَاكَ، وَاَلْحِقْهُ بِمَنْ كَانَ يَتَوَلاَّهُ
Allâhumarham
ghurbatahu, wa shil wahdatahu, wa anis wahsyatahu, wa amin raw‘atahu, wa askin
ilayhi min rahmatika yastaghnî bihâ ‘an rahmatin min siwâka, wa alhiqhu biman
kâma yatawallâhu.
Ya Allah,
kasihi keterasingannya, sambungkan kesendiriannya, hiburlah kesepiannya,
tenteramkan kekhawatirannya, tenangkan ia dengan rahmat-Mu yang dengannya tidak
membutuhkan kasih sayang dari selain-Mu, dan susulkan ia kepada orang yang ia
cintai.
Ibnu Thawus
mengatakan: Jika kamu hendak berziarah ke kuburan orang-orang mukmin, maka
hendaknya hari Kamis, jika tidak, maka waktu tertentu yang kamu kehendaki,
menghadap ke kiblat sambil meletakkan tangan pada kuburannya dan membaca doa
tersebut.
Muhammad bin
Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami
berziarah ke orang-orang yang telah meningga? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian
aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada
mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia
dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang baca ketika
kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini:
اللَّهُمَّ
جَافِ اْلاَرْضَ عَنْ جُنُوبِهِمْ وَ صَاعِدْ إِلَيْكَ أَرْوَاحَهُمْ وَ لَقِّهِمْ
مِنْكَ رِضْوَانًا وَ أَسْكِنْ إِلَيْهِمْ مِنْ رَحْمَتِكَ مَا تَصِلُ بِهِ
وَحْدَتَهُمْ وَ تُونِسُ بِهِ وَحْشَتَهُمْ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Allâhumma
jâfil ardha ‘an junûbihim, wa shâ’id ilayka arwâhahum, wa laqqihim minka
ridhwânâ, wa askin ilayhim mir rahmatika mâ tashilu bihi wahdatahum, wa tûnisu
bihi wahsyatahum, innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr.
Ya Allah,
luaskan kuburan mereka, muliakan arwah mereka, sampaikan mereka pada
ridha-Mu, tenteramkan mereka dengan rahmat-Mu, rahmat yang menyambungkan
kesendirian mereka, yang menghibur kesepian mereka. Sesungguhnya Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar